Kehidupan SMA seperti bunga
mawar yang baru mekar, saat-saat paling indah dalam hidup ini. Itulah
yang sering dikatakan semua orang, tapi tak berlaku untukku yang belum
menemukan tujuan hidup dan tak tertarik dalam percintaan dan juga aku sudah
malas dengan kata persahabatan. Aku memiliki kehidupan SMA yang abu-abu dan
membosankan. Aku selalu bosan di manapun dan kapan pun. Sering kali aku ingin
menyalahkan kebosananku kepada orang lain, namun aku tahu bahwa itu bukan salah
siapa-siapa.
Aku telah lelah menjalin hubungan dengan
teman, karena mereka hanya akan melukaimu, semakin besar kau mempercayainya
maka akan semakin besar rasa sakit saat kau dikhianati. Dan jika kau tidak
dikhianati, pada akhirnya kau juga akan berpisah. Semakin lama kau bersama akan
semakin sakit juga saat berpisah dan akan semakin lama juga waktumu untuk
bersedih.
Sebelum terlalu jauh, namaku adalah
Ami. Akan kuceritakan mengapa aku muak dengan yang namanya persahabatan dan
percintaan. Dari awal, aku memang tak pandai bergaul, entah kenapa orang-orang
malah menjauhiku padahal belum mengenalku sama sekali, dan itu masih menjadi
misteri. Karena itu aku sudah tidak masuk sekolah selama dua minggu sejak
upacara penerimaan siswa baru. Dan karena aku bolos sekolah, aku mendapat
beberapa teman, meski agak nakal. Tapi ternyata mereka hanya memanfaatkanku.
Aku menyadarinya di saat seorang cewek yang cuek, tapi dia sangat cantik,
berwajah oval, rambutnya panjang lurus dan diikat ponytail, bulu mata yang lentik, bibir yang tipis, selalu basah dan
terlihat sangat lembut. Ia datang ke rumahku untuk mengantar tugas-tugas
sekolah dan menyampaikan pesan guru untuk memintaku datang ke sekolah lagi.
Waktu itu temanku datang ke rumahku untuk meminjam uang lagi, padahal mereka
belum membayar hutang mereka dulu. Dari tampangnya cewek itu sangatlah cuek,
tapi entah kenapa ia mau untuk mengatakan bahwa aku sedang dimanfaatkan. Maka
dari itu aku sudahi berteman dengan mereka. Masalah hutang mereka, aku sudah mengiklaskannya.
Rin, nama cewek cuek itu. Minggu
selanjutnya ia mengantarkan tugas sekolah lagi dan mengambil tugas yang sudah kukerjakan.
Lalu kutanya, “bukankah ini yang dilakukan teman saat temannya tidak masuk,
berarti bukankah kau adalah temanku?” Lalu ia membantah dengan tegas kalau ia
hanya disuruh guru dan akan mendapat buku pelajaran baru bila mau melakukannya
dan akan mendapat buku pelajaran baru lagi bila aku mau berangkat ke sekolah
lagi. Ia hanya tertarik dengan belajar. Dan aku pun penasaran apakah bersekolah
itu menyenangkan. Tapi dia tidak menjawabnya. Lalu kukatakan saja “aku mau ke sekolah
asal kau menjadi temanku” sebagai pancingan agar ia mau menjadi temanku. Tapi Rin
menolaknya karena ia juga trauma dengan persahabatan. “cewek yang terlalu populer di kalangan laki-laki akan dijauhi cewek
lainnya.” Ternyata itu benar-benar terjadi, dan itu menimpa Rin. Tapi aku
tidak menyerah, dan aku pun mulai kembali bersekolah. Dan lagi semuanya entah
kenapa menjauhiku kecuali Rin, karena ia tak peduli. Aku duduk di sebelahnya,
dan mulai mendekatinya. Saat pulang sekolah kami pun pulang bersama. Entah
seberapa cuek cewek ini, ia menganggapku tidak ada. Saat pulang kami dihentikan
oleh beberapa berandalan. Ternyata mereka adalah mantan temanku, karena mereka
mau menyakiti Rin, maka aku hajar mereka. Yah.. mungkin karena ini aku dijauhi.
Karena aku jago dalam membantai, berkelahi, dan mungkin wajahku seperti
berandalan. Tapi entah kenapa Rin tidak takut kepadaku, padahal semua orang di kelas
takut kepadaku. Lalu aku menanyakannya. Dan jawabannya sangat membuatku senang,
“bukankah kau temanku, kenapa harus takut ?” Akhirnya kami berteman juga,
hubunganku dengan Rin semakin akrab, walau sering bertengkar. Bertengkar lalu
cepatlah berbaikan itu akan membuat persahabatanmu semakin kuat.
Namun
suatu hari ada yang aneh dengan diriku. Saat aku melihat Rin, dadaku menjadi
sesak, wajah dan kupingku memanas dan aku tidak bisa fokus dalam hal apapun,
selalu memikirkannya, tapi sangat senang saat bertemu, dan sangat rindu bila
tak bertemu. Saat kutanyakan kepada Rin, ternyata ia juga merasakan hal yang
sama. Bukankah itu penyakit yang langka dan serius? Lalu waktu kami menanyakannya
kepada guru, beliau malah tertawa dan mengatakan bahwa kami sedang jatuh cinta.
Cinta? Apa itu. Dan saat ku pelajari di perpustakaan, tidak ada definisi dari
kata cinta, setiap buku artinya selalu berubah-ubah. Saat kusimpulkan arti-arti
cinta dari beberapa buku. Akhirnya aku menyadari, bahwa cinta adalah penyakit
yang aneh.
Tapi
saat aku melihat film bergenre action,
aku juga gak menemukan arti cinta. Padahal kata guru, “tonton film remaja maka
kau akan tahu.” Saat aku itu kakakku menonton film romantis akhirnya aku
menyadari arti cinta sesungguhnya. Dan setelah itu aku akan menanyakan kepada
Rin bahwa anggapanku benar atau salah. Tapi sebelum aku sempat menanyakannya ia
meninggalkan seutas surat untukku.
“Ami, maaf tidak memberitahumu secara
langsung. Karena akan sangat menyakitkan. Saat kau baca surat ini, mungkin aku
telah pindah. Maaf, aku harus pindah sekolah karena pekerjaan orang tuaku. Maaf
karena aku tak mampu menjadi teman yang baik untukmu. Dan terima kasih telah
menjadi temanku selama ini. Terima kasih karena kau telah hadir di hidupku, sekali
lagi terima kasih. Tapi ada satu hal yang ingin kukatakan, ingatlah kau tak
perlu mencari seratus orang teman, carilah satu teman yang menyayangimu lebih
dari seratus orang. Itu saja pesan terakhirku. Semoga Tuhan selalu melindungi
kita dan semoga kita dapat bertemu lagi.”
Sakit yang kurasa amatlah mendalam,
aku kehilangan teman satu-satunya yang kupunya dalam hidupku. Aku menghabiskan
masa SMP ku sendirian. Tanpa adanya teman satu pun.
***
Karena suatu masalah dalam
keluargaku, aku pindah ke kota lain saat mau menginjak masa SMA. Yah aku pun
tak begitu peduli karena nanti aku juga akan merasakan kebosanan yang sama saat
aku di SMP. Tahun pertama aku masuk di kelas akselerasi. Karena aku malas
belajar, di kelas sebelas aku masuk di kelas reguler. Dan tanpa diduga saat
hari pertama masuk. Ternyata aku sekelas dengan Rin. Apa dunia sesempit ini?
Namun lagi lagi aku tidak peduli dengan hal itu.
Rin juga berubah, ia berubah
drastis. Ia masih cantik sih, tapi sekarang sangat tomboy. Dan sekarang ia
sepertinya mempunyai dua teman baik. Tapi kayaknya enggak juga, kurasa Rin
hanya bermain main dengan teman pura-puranya. Satu minggu setelah hari pertama
menginjak kelas sebelas ia mengajakku bicara.
“Hey,
Ami, kau Ami kan?” kata Rin.
“Butuh
satu minggu untukmu mengenaliku ya.” Balasku
“Mau
bagaimana lagi, sikapmu benar-benar berubah.” Katanya
“Begitu
ya, tapi sepertinya kau tak kesepian lagi. Karena kau telah mempunyai teman
pura-pura.” Kataku
“Bagaimana
kau bisa mengatakan hal sejahat itu?” balasnya
“Kau
tak perlu mencari seratus orang teman, carilah satu teman yang menyayangimu
lebih dari seratus orang, siapa yang mengatakan itu? Kau bahkan sampai merubah
sikapmu. Sungguh tak berguna.” Balasku
“Mau
gimana lagi, sejak kau tak ada, aku sangat kesepian. Aku lelah sendirian.”
Balasnya.
Setelah itu aku langsung pergi. Aku
mungkin sudah berlebihan. Tapi kalau dipikir-pikir itu juga demi kebaikannya.
Karena persahabatan yang seperti itu hanya akan menyakitinya. Tiga hari
selanjutnya, Rin membeli roti di kantin, ia membayarnya, karena plastiknya
habis maka ia gak pake plastik, saat mau pergi ia dihentikan bibi kantin yang
satunya, karena gak pake plastik maka Rin dituduh belum membayar dengan kata
kasar. Dan teman pura-puranya malah ikut menuduh Rin. Karena ingin meluruskan
saja, aku memanggil bibi kantin yang menerima uang Rin untuk menjelaskan
semuanya. Lalu aku menyuruh bibi kantin satunya untuk meminta maaf, karena
memang dia yang salah.
Lalu
Rin menemuiku untuk berterima kasih. Dia bilang dia senang dengan hal itu. Lalu
aku menjawabnya “Kau terlalu murahan dengan hal itu aja udah senang dan kemana
teman pura-puramu? Bukannya membelamu tapi malah ikutan menuduhmu.”
“Kenapa
kamu sekarang sejahat ini? Dulu kamu selalu perhatian, apa yang membuatmu jadi
seperti ini?” tanya Rin.
“Waktu
dapat mengubah seseorang bukan? Jangan kau mencari-cari diriku yang dulu. Kau
sendiri sudah berubah terlalu jauh.” Jawabku.
“*hilks
hilks* kenapa kau jadi seperti ini?” tanya Rin sambil menangis.
“Sudahlah
jangan menangis, oke aku yang salah.” Bujukku
“Kenapa
kau jadi seperti ini? Aku tak pernah berharap kau jadi seperti ini” tanyanya
sambil menangis.
“Harapan
adalah sumber kekecewaan, jika kau tidak berharap kau tak akan kecewa. Dengan
meninggalkan hal yang menyedihkan maka kau akan bahagia.”Jawabku
“Jika
hidup tanpa harapan bukankah sama saja mati? Jika kau mati bagaimana bisa kau merasakan
bahagia?” Balasnya.
“Lalu
bagaimana cara untuk bahagia?” tanyaku sambil agak marah.
“Aku
pun juga tidak tahu.” Jawabnya.
Saat itu kami pun terdiam, setelah
beberapa saat, kami kembali ke kelas. Saat memasuki kelas Rin kena marah kedua
temannya, karena dia tidak makan bareng bersama mereka. Karena itu terjadi
pertengkaran yang menyebabkan persahabatan mereka rusak dan tak bisa terbenahi.
Dan saat pulang tiba-tiba Rin mencariku dan berkata “ aku akan mereset
semuanya, karena sudah wajar kalau tidak semua bisa berjalan lancar. Aku akan
mengulanginya.” Aku hanya menjawab “Bukankah itu baik, syukurlah.” Dan sejak
itu Rin mulai mendekatiku, tapi aku juga tidak peduli, maka aku biarkan aja.
Saat hasil ujian tengah semester
diumumkan saat pulang sekolah, Rin sangat gelisah. Bukan karena nilainya
rendah, bahkan nilainya tergolong di atas rata-rata. Tapi karena nilaiku yang
rusak. Yah memang aku tidak peduli dengan semua itu, tapi Rin marah kepadaku.
Dan mengajakku belajar bersama. Aku terus-terusan menolaknya. Tapi Rin terus
ngotot. Aku terselamatkan saat sekretaris kelas menanyaiku.
“Aaaami.
Siapa nama ibumu? Ini untuk data kelas” tanya sekretaris.
“Ibuku?
Namanya Lisa, oh iya depannya kasih gelar almarhum.” Jawabku.
Semua orang di kelas lalu menatapku
dengan tatapan kasihan, apalagi Rin, ia entah kenapa malah keliatan ingin
menangis. Lalu aku mengajak Rin pergi. Ia tanya pergi kemana? Lalu aku menjawab
“bukannya mau belajar? Ayo ke perpus.” Tapi saat di perpus aku langsung tidur
aja, toh aku gak ada niat belajar, Cuma mau kabur dari situasi kayak tadi.
Bukannya bangunin tapi malah ikut tidur, mungkin ia maklum dan lagi perhatian
karena masalah tadi.
Seminggu setelah itu aku selalu
diseret untuk belajar bersama, tapi aku selalu kabur dan melarikan diri. Karena
alasan pribadi, aku gak ada niat untuk belajar. Tapi Rin selalu mengejarku dan
mencariku walau gak pernah ketemu. Tapi akhirnya ia menemukanku. Dan
terus-terusan mengajak belajar bersama.
“Kenapa
kau selalu melakukan ini? Apa gunanya?” Tanya Rin.
“Memang
tak ada gunanya. Dan juga aku tidak peduli.”
Jawabku.
“Jika
kau melakukan itu bukankah akan membuat ibumu sedih.” Balasnya.
“Aku
tahu.... Aku pun telah banyak berpikir sendiri. Dan kau tak akan mengerti.”
Balasku.
“Lalu
kenapa kau tidak menceritakannya?” Katanya.
*** Lalu
aku menceritakannya. ***
“Sebulan
setelah kau pergi meninggalkanku. Kedua orang tuaku bercerai, kakakku bersama
ayahku dan aku bersama ibuku. Setelah itu ibuku bekerja untuk mencukupi
kehidupan sehari-hari. Karena takut akan masa depan aku selalu belajar
sungguh-sungguh sampai aku tidak menikmati waktuku dengan ibuku. Tanpa sadar
ibuku telah sakit dan sampai harus dirawat ke rumah sakit. Tiap hari aku
menunggu sambil melihat tubuh ibuku yang semakin kurus hari demi hari, tampak bersiap-siap
meninggalkan dunia ini. Sampai aku tahu bahwa ibu terkena kanker payudara, dan
sudah sampai ke tulang belakang, akhirnya ibuku meninggal dunia. Apa kau sudah
mengerti? Bagaimana perasaanku?” Ceritaku.
*** Rin
hanya terdiam dan mulai menangis. Lalu aku bertanya. ***
“Kenapa
kau sangat ingin terlibat? Hal itu membuatku takut.” Tanyaku
“Aku
ingin bersamamu, jika kau tidak naik kelas atau dikeluarkan dari sekolah,
bagaimana aku bisa bertemu dan menghabiskan waktu denganmu? Aku memang tidak
mengerti, tapi apa salahnya ingin mengerti perasaanmu dari lubuk hatiku? Jika
kau kehilangan sesuatu kau bisa menggantinya kan, dan gak harus dengan sesuatu
yang sama. Meski hanya dengan sesuatu yang kecil, itu cukup untuk membuatmu
melangkah bukan?” Jawab Rin.
Jawaban Rin telah membuatku
tersadar, kau tak harus mengganti sesuatu yang hilang dengan sesuatu yang sama,
aku juga menyadari jika kau ingin suasana hatimu berubah kau hanya perlu
tertawa dari lubuk hatimu. Dan itu adalah akhir dari kehidupan SMA ku yang membosankan,
dan awal dari pergantian warna kehidupanku, dari abu-abu ke warna yang lebih
baik.
Aku dan Rin kini menjadi teman, kami
selalu bersama bahkan sampai dikira orang-orang kami adalah sepasang kekasih.
Ya mauku sih begitu, tapi enggak juga gak papa, aku hanya ingin menikmati
waktuku yang tersisa bersama Rin.
Seiring
bergantinya waktu hubunganku dengan Rin semakin dekat. Dan aku pun semakin
mencintainya. Tapi karena aku mencintainya aku harus pergi jauh darinya, dan
ini awal kepergianku. Saat itu aku dan Rin pulang bareng. Dan Rin tanya hal
aneh.
“Hey,
Ami, apa kau sudah punya cewek yang kau sukai?” tanya Rin dengan melihat ke
bawah.
“Apaan
sih? Ya..... umm... ada.” Jawabku sambil malu-malu
“Siapa?”
tanyanya dengan muka sangat penasaran.
“Ada
deh. Rahasia dong.” Jawabku sambil mengelak.
“Okelah.”
Katanya. Setelah itu ia bertanya lagi
“Hei,
Ami, sebenarnya aku......... menyukaimu.. kamu mau nggak jadi pacarku?” tanyanya
sambil malu-malu.
“Hei,
apa kau bilang? Gak usah bercanda kayak gitu.” Jawabku sambil mengelak.
“Ayolah, please
serius!” Tegasnya.
“Maaf,
aku nggak bisa.” Tolakku dengan lembut.
“Kenapa?”
tanyanya dengan hati yang patah dan frustasi.
“Karena
ada banyak hal.” Jawabku sambil mengelak.
“Apa
sih? Gak jelas banget, emangnya kenapa?” Tanyanya kembali dengan meninggikan
suaranya.
“Maaf,
aku nggak bisa cerita.” Jawabku sambil melirik ke pojok kiri bawah.
“Ya udah,
maaf ya.........” Katanya dengan perasaan yang hancur.
***
Satu minggu aku tidak pergi sekolah
dan mengurung diri di kamar. Ibuku dan ayahku juga sangat khawatir. Hujan badai
telah tiba di hatiku, bukan hanya air yang jatuh di badai itu, tapi beberapa es
juga melukai hatiku, sambaran petirnya membuatku merinding, dan saat angin
kencangnya berhembus, itu sangat membuatku kedinginan seperti tidak ada tempat
untuk membuatku menghangatkan diri. Satu minggu aku menangis karena ditolak
Ami, mungkin memang cintaku bertepuk sebelah tangan. Aku sangat takut untuk
pergi ke sekolah. Karena mungkin hubunganku sudah berbeda, aku sangat khawatir,
bagaimana kalau aku tidak bisa akrab lagi dengan Ami? Bagaimana kalau persahabatan
kami tidak bisa terbenahi. Badai di hatiku itu, telah terusir dalam waktu satu
Minggu, kini aku sudah siap melangkah lagi. Di pagi yang cerah, langit yang
sepi, tidak ada awan satu pun, udara yang masih sejuk, belum terkena polusi,
dan aroma rerumputan membuat hati ini tenang. Mungkin ini adalah saatnya
pelangi muncul setelah badai, bukan? Di pagi itu, aku memutuskan untuk
berangkat sekolah.
Saat aku tiba di sekolah, aku tidak
melihat Ami sepintas pun. Apa ia juga syok? Pikir ku. Karena ingin menyemangati
Ami, aku langsung menelponnya.
“Hey,
Ami!” tanyaku dengan penasaran
“Hey
juga, kamu apa kabar?” Jawabnya.
“Baik,
kalau kamu?” tanyaku sambil agak lega.
“Seperti
biasa.” Jawabnya
“Kamu
sekarang ada dimana?” tanyaku dengan penasaran.
“Ya
jelas di rumah sakit lah...... eh.” Ami keceplosan dan langsung menutup
telponnya
Aku
sudah telepon kembali berkali-kali, tapi tidak diangkat. Juga sudah ku SMS tapi
tidak dibalas. Perkataan itu “Ya jelas di rumah sakit lah.” membuat hatiku
bergetar dengan keras, perasaan ku seperti terdapat bom waktu yang akan meledak
di dalam hatiku. Kemudian dengan rasa khawatir yang tak terbendung aku langsung
ke rumah Ami, tapi rumahnya terkunci dan tidak ada satu orang pun. Lalu aku
langsung pergi ke rumah sakit dimana Ami di periksa dulu, katanya sih periksa
Anemia, jadi aku enggak terlalu khawatir. Dan saat tiba di rumah sakit aku
langsung tanya kamar Ami di lobby. Ternyata Ami ditempatkan di kamar VIP. Aku
sangat khawatir bagai Bom waktu di hatiku rasanya sudah mau meledak. Bagaimana
tidak? Kalau ia dirawat di kelas VIP, berarti ia terkena penyakit serius dong.
Dan saat aku tiba di kamarnya, ia memalingkan wajahnya sehingga aku tidak
melihatnya.
“Hey,
kamu apa kabar?” Basa-basiku dengan sangat khawatir.
“Bukankah
kau sudah lihat? Aku sedang sakit.” Jawabnya dan tetap memalingkan wajahnya.
“Kamu
sakit apa?” tanyaku dengan rasa khawatir.
“Bukan
apa-apa, Cuma kanker darah.” Jawabnya dengan senyuman yang manis.
“Kenapa
kau tidak bilang dari awal?” tanyaku sambil menangis.
“Aku
tidak mau kau mengasihaniku.” Jawabnya sambil memandang ke bawah.
“Hey.
Dulu kau bilang punya cewek yang kau sukai, siapa?” Tanyaku sambil menangis
tapi sangat penasaran.
“Bukankah
udah jelas. Aku menyukaimu.” Jawabnya sambil malu-malu.
“Ami,
kamu tahu, kalau kamu lagi malu, lucu banget loh. Kamu menyukaiku kan tapi
kenapa kamu menolakku?” Kataku sambil tersenyum lebar.
“Karena
jika kita terlalu dekat maka akan sangat menyakitkan saat berpisah. Dan aku
tidak mempunyai waktu yang lama, hari ini mungkin hari terakhir aku hidup.”
Jawabnya dengan muka sedih.
“oh
begitu, sebelum kau pergi, aku hanya ingin kau tahu, bahwa aku sangat
mencintaimu.” Kataku sambil menahan
tangis dan tersenyum lebar.
“Hey,
kau tahu, kata orang tuaku, saat aku dilahirkan aku menangis, tapi semua orang
di sekitarku tersenyum dan tertawa” katanya.
“Semua
orang juga sama.” Balasku.
“iya
mungkin. Dan saat tahu itu aku mempunyai cita-cita. Saat aku mati akan
kupastikan kalau aku tersenyum dan semua orang di sekitarku akan menangis.
Waktunya sudah dekat, entah akan tercapai atau tidak cita-citaku itu.”
Curhatnya.
“Pasti
akan tercapai, walaupun tidak semua orang, aku sendiri akan menangis lebih
keras dan kencang dari seratus orang. Karena aku adalah seratus kali lipat
temanmu.” Jawabku sambil menahan tangis.
“Terima
kasih Rin. Kau satu-satunya temanku. Aku sangat mencintaimu. Terima kasih sudah
menjadi temanku, terima kasih sudah hadir dalam hidupku, terima kasih. Aku
sangat bersyukur telah bertemu denganmu.” Katanya sambil tersenyum
“Aku
juga mencintaimu, aku juga bersyukur telah bertemu denganmu.” Jawabku sambil
tak kuasa menahan tangis lagi.
“ya,
aku tahu itu, aku akan menunggumu di surga. Tapi aku akan selalu mengawasimu
loh. Jika aku telah tiada, kau harus tetap semangat walaupun tak ada yang
menyemangatimu, kau semangati dirimu sendiri, kau bisa mengganti sesuatu yang
hilang dengan sesuatu yang berbeda. Tertawalah dari lubuk hatimu untuk mengubah
suasana hati.” Kata Ami dengan senyuman.
“Oke.
Tunggu aku ya.” Kataku sambil menangis.
“Oh
iya ada satu lagi, kau tidak perlu mencari seratus orang teman, carilah satu
teman yang menyayangimu lebih banyak dari seratus orang.” Kata-katanya yang
membuat air mataku semakin deras mengalir.
“Baiklah,
aku akan berusaha.” Jawabku.
Dan itu saat nafas terakhir Ami
berhembus. Aku mulai menangis dengan sangat keras, tangisanku ini bukanlah
badai melainkan hujan yang tenang dan memberi kehidupan bagi makhluk lain. Ami
pun meninggalkan dunia ini dengan senyuman, ia meninggalkan dunia ini dengan
bahagia. Pelangi selalu muncul setelah hujan tapi kau tak selalu dapat
melihatnya. Aku akan berusaha lebih keras lagi dalam hidup ini demi bagian Ami
juga. Cuma raga Ami yang mati, ia masih hidup, dan akan terus hidup di dalam
hatiku. Tak peduli sesingkat apa hidup ini, yang terpenting adalah bagaimana
dan dengan siapa kau menghabiskan hidupmu.
Tamat.
Cerpen Persahabatan
Cerpen Percintaan
Cerpen SMA

Comments
Post a Comment