Skip to main content

Cerpen Abu-Abu yang Berwarna

Abu-Abu yang Berwarna
(Guntur Bima Ariyanto)


Kehidupan SMA seperti bunga mawar yang baru mekar, saat-saat paling indah dalam hidup ini. Itulah yang sering dikatakan semua orang, tapi tak berlaku untukku yang belum menemukan tujuan hidup dan tak tertarik dalam percintaan dan juga aku sudah malas dengan kata persahabatan. Aku memiliki kehidupan SMA yang abu-abu dan membosankan. Aku selalu bosan di manapun dan kapan pun. Sering kali aku ingin menyalahkan kebosananku kepada orang lain, namun aku tahu bahwa itu bukan salah siapa-siapa.
            Aku telah lelah menjalin hubungan dengan teman, karena mereka hanya akan melukaimu, semakin besar kau mempercayainya maka akan semakin besar rasa sakit saat kau dikhianati. Dan jika kau tidak dikhianati, pada akhirnya kau juga akan berpisah. Semakin lama kau bersama akan semakin sakit juga saat berpisah dan akan semakin lama juga waktumu untuk bersedih.
            Sebelum terlalu jauh, namaku adalah Ami. Akan kuceritakan mengapa aku muak dengan yang namanya persahabatan dan percintaan. Dari awal, aku memang tak pandai bergaul, entah kenapa orang-orang malah menjauhiku padahal belum mengenalku sama sekali, dan itu masih menjadi misteri. Karena itu aku sudah tidak masuk sekolah selama dua minggu sejak upacara penerimaan siswa baru. Dan karena aku bolos sekolah, aku mendapat beberapa teman, meski agak nakal. Tapi ternyata mereka hanya memanfaatkanku. Aku menyadarinya di saat seorang cewek yang cuek, tapi dia sangat cantik, berwajah oval, rambutnya panjang lurus dan diikat ponytail, bulu mata yang lentik, bibir yang tipis, selalu basah dan terlihat sangat lembut. Ia datang ke rumahku untuk mengantar tugas-tugas sekolah dan menyampaikan pesan guru untuk memintaku datang ke sekolah lagi. Waktu itu temanku datang ke rumahku untuk meminjam uang lagi, padahal mereka belum membayar hutang mereka dulu. Dari tampangnya cewek itu sangatlah cuek, tapi entah kenapa ia mau untuk mengatakan bahwa aku sedang dimanfaatkan. Maka dari itu aku sudahi berteman dengan mereka. Masalah hutang mereka, aku sudah mengiklaskannya.
            Rin, nama cewek cuek itu. Minggu selanjutnya ia mengantarkan tugas sekolah lagi dan mengambil tugas yang sudah kukerjakan. Lalu kutanya, “bukankah ini yang dilakukan teman saat temannya tidak masuk, berarti bukankah kau adalah temanku?” Lalu ia membantah dengan tegas kalau ia hanya disuruh guru dan akan mendapat buku pelajaran baru bila mau melakukannya dan akan mendapat buku pelajaran baru lagi bila aku mau berangkat ke sekolah lagi. Ia hanya tertarik dengan belajar. Dan aku pun penasaran apakah bersekolah itu menyenangkan. Tapi dia tidak menjawabnya. Lalu kukatakan saja “aku mau ke sekolah asal kau menjadi temanku” sebagai pancingan agar ia mau menjadi temanku. Tapi Rin menolaknya karena ia juga trauma dengan persahabatan. “cewek yang terlalu populer di kalangan laki-laki akan dijauhi cewek lainnya.” Ternyata itu benar-benar terjadi, dan itu menimpa Rin. Tapi aku tidak menyerah, dan aku pun mulai kembali bersekolah. Dan lagi semuanya entah kenapa menjauhiku kecuali Rin, karena ia tak peduli. Aku duduk di sebelahnya, dan mulai mendekatinya. Saat pulang sekolah kami pun pulang bersama. Entah seberapa cuek cewek ini, ia menganggapku tidak ada. Saat pulang kami dihentikan oleh beberapa berandalan. Ternyata mereka adalah mantan temanku, karena mereka mau menyakiti Rin, maka aku hajar mereka. Yah.. mungkin karena ini aku dijauhi. Karena aku jago dalam membantai, berkelahi, dan mungkin wajahku seperti berandalan. Tapi entah kenapa Rin tidak takut kepadaku, padahal semua orang di kelas takut kepadaku. Lalu aku menanyakannya. Dan jawabannya sangat membuatku senang, “bukankah kau temanku, kenapa harus takut ?” Akhirnya kami berteman juga, hubunganku dengan Rin semakin akrab, walau sering bertengkar. Bertengkar lalu cepatlah berbaikan itu akan membuat persahabatanmu semakin kuat.
Namun suatu hari ada yang aneh dengan diriku. Saat aku melihat Rin, dadaku menjadi sesak, wajah dan kupingku memanas dan aku tidak bisa fokus dalam hal apapun, selalu memikirkannya, tapi sangat senang saat bertemu, dan sangat rindu bila tak bertemu. Saat kutanyakan kepada Rin, ternyata ia juga merasakan hal yang sama. Bukankah itu penyakit yang langka dan serius? Lalu waktu kami menanyakannya kepada guru, beliau malah tertawa dan mengatakan bahwa kami sedang jatuh cinta. Cinta? Apa itu. Dan saat ku pelajari di perpustakaan, tidak ada definisi dari kata cinta, setiap buku artinya selalu berubah-ubah. Saat kusimpulkan arti-arti cinta dari beberapa buku. Akhirnya aku menyadari, bahwa cinta adalah penyakit yang aneh.
Tapi saat aku melihat film bergenre action, aku juga gak menemukan arti cinta. Padahal kata guru, “tonton film remaja maka kau akan tahu.” Saat aku itu kakakku menonton film romantis akhirnya aku menyadari arti cinta sesungguhnya. Dan setelah itu aku akan menanyakan kepada Rin bahwa anggapanku benar atau salah. Tapi sebelum aku sempat menanyakannya ia meninggalkan seutas surat untukku.
Ami, maaf tidak memberitahumu secara langsung. Karena akan sangat menyakitkan. Saat kau baca surat ini, mungkin aku telah pindah. Maaf, aku harus pindah sekolah karena pekerjaan orang tuaku. Maaf karena aku tak mampu menjadi teman yang baik untukmu. Dan terima kasih telah menjadi temanku selama ini. Terima kasih karena kau telah hadir di hidupku, sekali lagi terima kasih. Tapi ada satu hal yang ingin kukatakan, ingatlah kau tak perlu mencari seratus orang teman, carilah satu teman yang menyayangimu lebih dari seratus orang. Itu saja pesan terakhirku. Semoga Tuhan selalu melindungi kita dan semoga kita dapat bertemu lagi.”
            Sakit yang kurasa amatlah mendalam, aku kehilangan teman satu-satunya yang kupunya dalam hidupku. Aku menghabiskan masa SMP ku sendirian. Tanpa adanya teman satu pun.
***
            Karena suatu masalah dalam keluargaku, aku pindah ke kota lain saat mau menginjak masa SMA. Yah aku pun tak begitu peduli karena nanti aku juga akan merasakan kebosanan yang sama saat aku di SMP. Tahun pertama aku masuk di kelas akselerasi. Karena aku malas belajar, di kelas sebelas aku masuk di kelas reguler. Dan tanpa diduga saat hari pertama masuk. Ternyata aku sekelas dengan Rin. Apa dunia sesempit ini? Namun lagi lagi aku tidak peduli dengan hal itu.
            Rin juga berubah, ia berubah drastis. Ia masih cantik sih, tapi sekarang sangat tomboy. Dan sekarang ia sepertinya mempunyai dua teman baik. Tapi kayaknya enggak juga, kurasa Rin hanya bermain main dengan teman pura-puranya. Satu minggu setelah hari pertama menginjak kelas sebelas ia mengajakku bicara.
“Hey, Ami, kau Ami kan?” kata Rin.
“Butuh satu minggu untukmu mengenaliku ya.” Balasku
“Mau bagaimana lagi, sikapmu benar-benar berubah.” Katanya
“Begitu ya, tapi sepertinya kau tak kesepian lagi. Karena kau telah mempunyai teman pura-pura.” Kataku
“Bagaimana kau bisa mengatakan hal sejahat itu?” balasnya
“Kau tak perlu mencari seratus orang teman, carilah satu teman yang menyayangimu lebih dari seratus orang, siapa yang mengatakan itu? Kau bahkan sampai merubah sikapmu. Sungguh tak berguna.” Balasku
“Mau gimana lagi, sejak kau tak ada, aku sangat kesepian. Aku lelah sendirian.” Balasnya.
            Setelah itu aku langsung pergi. Aku mungkin sudah berlebihan. Tapi kalau dipikir-pikir itu juga demi kebaikannya. Karena persahabatan yang seperti itu hanya akan menyakitinya. Tiga hari selanjutnya, Rin membeli roti di kantin, ia membayarnya, karena plastiknya habis maka ia gak pake plastik, saat mau pergi ia dihentikan bibi kantin yang satunya, karena gak pake plastik maka Rin dituduh belum membayar dengan kata kasar. Dan teman pura-puranya malah ikut menuduh Rin. Karena ingin meluruskan saja, aku memanggil bibi kantin yang menerima uang Rin untuk menjelaskan semuanya. Lalu aku menyuruh bibi kantin satunya untuk meminta maaf, karena memang dia yang salah.
Lalu Rin menemuiku untuk berterima kasih. Dia bilang dia senang dengan hal itu. Lalu aku menjawabnya “Kau terlalu murahan dengan hal itu aja udah senang dan kemana teman pura-puramu? Bukannya membelamu tapi malah ikutan menuduhmu.”
“Kenapa kamu sekarang sejahat ini? Dulu kamu selalu perhatian, apa yang membuatmu jadi seperti ini?” tanya Rin.
“Waktu dapat mengubah seseorang bukan? Jangan kau mencari-cari diriku yang dulu. Kau sendiri sudah berubah terlalu jauh.” Jawabku.
“*hilks hilks* kenapa kau jadi seperti ini?” tanya Rin sambil menangis.
“Sudahlah jangan menangis, oke aku yang salah.” Bujukku
“Kenapa kau jadi seperti ini? Aku tak pernah berharap kau jadi seperti ini” tanyanya sambil menangis.
“Harapan adalah sumber kekecewaan, jika kau tidak berharap kau tak akan kecewa. Dengan meninggalkan hal yang menyedihkan maka kau akan bahagia.”Jawabku
“Jika hidup tanpa harapan bukankah sama saja mati? Jika kau mati bagaimana bisa kau merasakan bahagia?” Balasnya.
“Lalu bagaimana cara untuk bahagia?” tanyaku sambil agak marah.
“Aku pun juga tidak tahu.” Jawabnya.
            Saat itu kami pun terdiam, setelah beberapa saat, kami kembali ke kelas. Saat memasuki kelas Rin kena marah kedua temannya, karena dia tidak makan bareng bersama mereka. Karena itu terjadi pertengkaran yang menyebabkan persahabatan mereka rusak dan tak bisa terbenahi. Dan saat pulang tiba-tiba Rin mencariku dan berkata “ aku akan mereset semuanya, karena sudah wajar kalau tidak semua bisa berjalan lancar. Aku akan mengulanginya.” Aku hanya menjawab “Bukankah itu baik, syukurlah.” Dan sejak itu Rin mulai mendekatiku, tapi aku juga tidak peduli, maka aku biarkan aja.
            Saat hasil ujian tengah semester diumumkan saat pulang sekolah, Rin sangat gelisah. Bukan karena nilainya rendah, bahkan nilainya tergolong di atas rata-rata. Tapi karena nilaiku yang rusak. Yah memang aku tidak peduli dengan semua itu, tapi Rin marah kepadaku. Dan mengajakku belajar bersama. Aku terus-terusan menolaknya. Tapi Rin terus ngotot. Aku terselamatkan saat sekretaris kelas menanyaiku.
“Aaaami. Siapa nama ibumu? Ini untuk data kelas” tanya sekretaris.
“Ibuku? Namanya Lisa, oh iya depannya kasih gelar almarhum.” Jawabku.
            Semua orang di kelas lalu menatapku dengan tatapan kasihan, apalagi Rin, ia entah kenapa malah keliatan ingin menangis. Lalu aku mengajak Rin pergi. Ia tanya pergi kemana? Lalu aku menjawab “bukannya mau belajar? Ayo ke perpus.” Tapi saat di perpus aku langsung tidur aja, toh aku gak ada niat belajar, Cuma mau kabur dari situasi kayak tadi. Bukannya bangunin tapi malah ikut tidur, mungkin ia maklum dan lagi perhatian karena masalah tadi.
            Seminggu setelah itu aku selalu diseret untuk belajar bersama, tapi aku selalu kabur dan melarikan diri. Karena alasan pribadi, aku gak ada niat untuk belajar. Tapi Rin selalu mengejarku dan mencariku walau gak pernah ketemu. Tapi akhirnya ia menemukanku. Dan terus-terusan mengajak belajar bersama.
“Kenapa kau selalu melakukan ini? Apa gunanya?” Tanya Rin.
“Memang tak ada gunanya. Dan juga aku tidak peduli.”  Jawabku.
“Jika kau melakukan itu bukankah akan membuat ibumu sedih.” Balasnya.
“Aku tahu.... Aku pun telah banyak berpikir sendiri. Dan kau tak akan mengerti.” Balasku.
“Lalu kenapa kau tidak menceritakannya?” Katanya.
*** Lalu aku menceritakannya. ***
“Sebulan setelah kau pergi meninggalkanku. Kedua orang tuaku bercerai, kakakku bersama ayahku dan aku bersama ibuku. Setelah itu ibuku bekerja untuk mencukupi kehidupan sehari-hari. Karena takut akan masa depan aku selalu belajar sungguh-sungguh sampai aku tidak menikmati waktuku dengan ibuku. Tanpa sadar ibuku telah sakit dan sampai harus dirawat ke rumah sakit. Tiap hari aku menunggu sambil melihat tubuh ibuku yang semakin kurus hari demi hari, tampak bersiap-siap meninggalkan dunia ini. Sampai aku tahu bahwa ibu terkena kanker payudara, dan sudah sampai ke tulang belakang, akhirnya ibuku meninggal dunia. Apa kau sudah mengerti? Bagaimana perasaanku?” Ceritaku.
*** Rin hanya terdiam dan mulai menangis. Lalu aku bertanya. ***
“Kenapa kau sangat ingin terlibat? Hal itu membuatku takut.” Tanyaku
“Aku ingin bersamamu, jika kau tidak naik kelas atau dikeluarkan dari sekolah, bagaimana aku bisa bertemu dan menghabiskan waktu denganmu? Aku memang tidak mengerti, tapi apa salahnya ingin mengerti perasaanmu dari lubuk hatiku? Jika kau kehilangan sesuatu kau bisa menggantinya kan, dan gak harus dengan sesuatu yang sama. Meski hanya dengan sesuatu yang kecil, itu cukup untuk membuatmu melangkah bukan?” Jawab Rin.
            Jawaban Rin telah membuatku tersadar, kau tak harus mengganti sesuatu yang hilang dengan sesuatu yang sama, aku juga menyadari jika kau ingin suasana hatimu berubah kau hanya perlu tertawa dari lubuk hatimu. Dan itu adalah akhir dari kehidupan SMA ku yang membosankan, dan awal dari pergantian warna kehidupanku, dari abu-abu ke warna yang lebih baik.
            Aku dan Rin kini menjadi teman, kami selalu bersama bahkan sampai dikira orang-orang kami adalah sepasang kekasih. Ya mauku sih begitu, tapi enggak juga gak papa, aku hanya ingin menikmati waktuku yang tersisa bersama Rin.
Seiring bergantinya waktu hubunganku dengan Rin semakin dekat. Dan aku pun semakin mencintainya. Tapi karena aku mencintainya aku harus pergi jauh darinya, dan ini awal kepergianku. Saat itu aku dan Rin pulang bareng. Dan Rin tanya hal aneh.
“Hey, Ami, apa kau sudah punya cewek yang kau sukai?” tanya Rin dengan melihat ke bawah.
“Apaan sih? Ya..... umm... ada.” Jawabku sambil malu-malu
“Siapa?” tanyanya dengan muka sangat penasaran.
“Ada deh. Rahasia dong.” Jawabku sambil mengelak.
“Okelah.” Katanya. Setelah itu ia bertanya lagi
“Hei, Ami, sebenarnya aku......... menyukaimu.. kamu mau nggak jadi pacarku?” tanyanya sambil malu-malu.
“Hei, apa kau bilang? Gak usah bercanda kayak gitu.” Jawabku sambil mengelak.
“Ayolah, please serius!” Tegasnya.
“Maaf, aku nggak bisa.” Tolakku dengan lembut.
“Kenapa?” tanyanya dengan hati yang patah dan frustasi.
“Karena ada banyak hal.” Jawabku sambil mengelak.
“Apa sih? Gak jelas banget, emangnya kenapa?” Tanyanya kembali dengan meninggikan suaranya.
“Maaf, aku nggak bisa cerita.” Jawabku sambil melirik ke pojok kiri bawah.
“Ya udah, maaf ya.........” Katanya dengan perasaan yang hancur.
***
            Satu minggu aku tidak pergi sekolah dan mengurung diri di kamar. Ibuku dan ayahku juga sangat khawatir. Hujan badai telah tiba di hatiku, bukan hanya air yang jatuh di badai itu, tapi beberapa es juga melukai hatiku, sambaran petirnya membuatku merinding, dan saat angin kencangnya berhembus, itu sangat membuatku kedinginan seperti tidak ada tempat untuk membuatku menghangatkan diri. Satu minggu aku menangis karena ditolak Ami, mungkin memang cintaku bertepuk sebelah tangan. Aku sangat takut untuk pergi ke sekolah. Karena mungkin hubunganku sudah berbeda, aku sangat khawatir, bagaimana kalau aku tidak bisa akrab lagi dengan Ami? Bagaimana kalau persahabatan kami tidak bisa terbenahi. Badai di hatiku itu, telah terusir dalam waktu satu Minggu, kini aku sudah siap melangkah lagi. Di pagi yang cerah, langit yang sepi, tidak ada awan satu pun, udara yang masih sejuk, belum terkena polusi, dan aroma rerumputan membuat hati ini tenang. Mungkin ini adalah saatnya pelangi muncul setelah badai, bukan? Di pagi itu, aku memutuskan untuk berangkat sekolah.
            Saat aku tiba di sekolah, aku tidak melihat Ami sepintas pun. Apa ia juga syok? Pikir ku. Karena ingin menyemangati Ami, aku langsung menelponnya.
“Hey, Ami!” tanyaku dengan penasaran
“Hey juga, kamu apa kabar?” Jawabnya.
“Baik, kalau kamu?” tanyaku sambil agak lega.
“Seperti biasa.” Jawabnya
“Kamu sekarang ada dimana?” tanyaku dengan penasaran.
“Ya jelas di rumah sakit lah...... eh.” Ami keceplosan dan langsung menutup telponnya
Aku sudah telepon kembali berkali-kali, tapi tidak diangkat. Juga sudah ku SMS tapi tidak dibalas. Perkataan itu “Ya jelas di rumah sakit lah.” membuat hatiku bergetar dengan keras, perasaan ku seperti terdapat bom waktu yang akan meledak di dalam hatiku. Kemudian dengan rasa khawatir yang tak terbendung aku langsung ke rumah Ami, tapi rumahnya terkunci dan tidak ada satu orang pun. Lalu aku langsung pergi ke rumah sakit dimana Ami di periksa dulu, katanya sih periksa Anemia, jadi aku enggak terlalu khawatir. Dan saat tiba di rumah sakit aku langsung tanya kamar Ami di lobby. Ternyata Ami ditempatkan di kamar VIP. Aku sangat khawatir bagai Bom waktu di hatiku rasanya sudah mau meledak. Bagaimana tidak? Kalau ia dirawat di kelas VIP, berarti ia terkena penyakit serius dong. Dan saat aku tiba di kamarnya, ia memalingkan wajahnya sehingga aku tidak melihatnya.
“Hey, kamu apa kabar?” Basa-basiku dengan sangat khawatir.
“Bukankah kau sudah lihat? Aku sedang sakit.” Jawabnya dan tetap memalingkan wajahnya.
“Kamu sakit apa?” tanyaku dengan rasa khawatir.
“Bukan apa-apa, Cuma kanker darah.” Jawabnya dengan senyuman yang manis.
“Kenapa kau tidak bilang dari awal?” tanyaku sambil menangis.
“Aku tidak mau kau mengasihaniku.” Jawabnya sambil memandang ke bawah.
“Hey. Dulu kau bilang punya cewek yang kau sukai, siapa?” Tanyaku sambil menangis tapi sangat penasaran.
“Bukankah udah jelas. Aku menyukaimu.” Jawabnya sambil malu-malu.
“Ami, kamu tahu, kalau kamu lagi malu, lucu banget loh. Kamu menyukaiku kan tapi kenapa kamu menolakku?” Kataku sambil tersenyum lebar.
“Karena jika kita terlalu dekat maka akan sangat menyakitkan saat berpisah. Dan aku tidak mempunyai waktu yang lama, hari ini mungkin hari terakhir aku hidup.” Jawabnya dengan muka sedih.
“oh begitu, sebelum kau pergi, aku hanya ingin kau tahu, bahwa aku sangat mencintaimu.”  Kataku sambil menahan tangis dan tersenyum lebar.
“Hey, kau tahu, kata orang tuaku, saat aku dilahirkan aku menangis, tapi semua orang di sekitarku tersenyum dan tertawa” katanya.
“Semua orang juga sama.” Balasku.
“iya mungkin. Dan saat tahu itu aku mempunyai cita-cita. Saat aku mati akan kupastikan kalau aku tersenyum dan semua orang di sekitarku akan menangis. Waktunya sudah dekat, entah akan tercapai atau tidak cita-citaku itu.” Curhatnya.
“Pasti akan tercapai, walaupun tidak semua orang, aku sendiri akan menangis lebih keras dan kencang dari seratus orang. Karena aku adalah seratus kali lipat temanmu.” Jawabku sambil menahan tangis.
“Terima kasih Rin. Kau satu-satunya temanku. Aku sangat mencintaimu. Terima kasih sudah menjadi temanku, terima kasih sudah hadir dalam hidupku, terima kasih. Aku sangat bersyukur telah bertemu denganmu.” Katanya sambil tersenyum
“Aku juga mencintaimu, aku juga bersyukur telah bertemu denganmu.” Jawabku sambil tak kuasa menahan tangis lagi.
“ya, aku tahu itu, aku akan menunggumu di surga. Tapi aku akan selalu mengawasimu loh. Jika aku telah tiada, kau harus tetap semangat walaupun tak ada yang menyemangatimu, kau semangati dirimu sendiri, kau bisa mengganti sesuatu yang hilang dengan sesuatu yang berbeda. Tertawalah dari lubuk hatimu untuk mengubah suasana hati.” Kata Ami dengan senyuman.
“Oke. Tunggu aku ya.” Kataku sambil menangis.
“Oh iya ada satu lagi, kau tidak perlu mencari seratus orang teman, carilah satu teman yang menyayangimu lebih banyak dari seratus orang.” Kata-katanya yang membuat air mataku semakin deras mengalir.
“Baiklah, aku akan berusaha.” Jawabku.
            Dan itu saat nafas terakhir Ami berhembus. Aku mulai menangis dengan sangat keras, tangisanku ini bukanlah badai melainkan hujan yang tenang dan memberi kehidupan bagi makhluk lain. Ami pun meninggalkan dunia ini dengan senyuman, ia meninggalkan dunia ini dengan bahagia. Pelangi selalu muncul setelah hujan tapi kau tak selalu dapat melihatnya. Aku akan berusaha lebih keras lagi dalam hidup ini demi bagian Ami juga. Cuma raga Ami yang mati, ia masih hidup, dan akan terus hidup di dalam hatiku. Tak peduli sesingkat apa hidup ini, yang terpenting adalah bagaimana dan dengan siapa kau menghabiskan hidupmu.




Tamat.
Cerpen Persahabatan
Cerpen Percintaan
Cerpen SMA

Comments